Pernah suatu ketika, kami harus mengerjakan tugas kuliah untuk dipresentasikan di minggu depannya. Kami pun bekerja masing2 di rumah untuk menulis bahan tugas tersebut. Dan kami pun meng-upload tugas tersebut masing masing untuk menggabungkan ide2 yang ada. Itu kami kerjakan tanpa bertemu dan bertatap muka.
Diskusi? tidak ada sama sekali.
Mengerti tentang materi? asumsi pribadi masing2.
Ketika keesokan harinya kami bertemu, kami pun membahasnya sedikit sekali. Dan tetap tetap saja kami masih berpegang dengan asumsi kami masing2. Itu sampai menjelang waktu untuk presentasi.
Dan apa yang terjadi????
Ketika kami presentasi, kami merasa dibantai habis2an oleh teman kami yang lain.
Cerita di atas adalah apa yang terjadi pada kelompok teman saya. Dalam hati saya bertanya,
kenapa merasa dibantai?
Dan kenapa juga ketika si A bertanya, kamu anggap dia sebagai pembantai?
Andaikan benar dia membantai, kenapa kalian yang satu kelompok tidak bisa menjawabnya dengan jawaban2 yang masuk akal dan logis?
Atau tidak bisakah kita menganggap teman kita yang sedang bertanya itu sebagai teman yang dengan pertanyaan2 pembantaian tersebut, dapat mendongkrak pengetahuan kita?
Dalam acara yang dibilang “pembantaian” tersebut (hehe), akhirnya bpk dosen memotong pertikaian yang ada. Dan akhirnya beliau menyalahkan kelompok pemateri karena dianggap salah dalam memberikan contoh, dan kurang dalam memahami materi.
Saya merasa sendirian, karena saya tau bahwa teman saya si penanya tadi karakternya adalah seneng guyon. Dan temen2 kelompok pemateri sebagian besar menanggapi serius. Ketika kelompok pemateri tersebut kurang memuaskan si penanya, maka yang terjadi adalah si penanya malah memasang tampang serius! (hahahhaa). Itu sih cuman penilaian saya pribadi. Tidak lebih dan tidak kurang, saya cuman mengambil pemikiran bahwa, di kampus yang harus dibawa adalah semangat belajar dan ingin tahu! bukan salah dan benar! Apalagi harapan nilai bagus! Tidak perlu sok aktif. Dan tidak perlu juga merasa minder.
Sekolah, Kampus, adalah tempat belajar yang formal dan areanya masih sempit. Masih ada yang lebih luas yaitu tempat belajar di kehidupan nyata ini.
lalu timbul pertanyaan,
“Kenapa kita harus mengambil sekolah tinggi2, kalo ada tempat belajar yang lebih luas yang dinamakan KEHIDUPAN itu sendiri? ”
Ayo… belajar! Terserah dimanapun tempatnya.
dedicated to all my friends